Bogor - Transjurnal.com - Kabupaten Bogor kembali menanam pohon. Lagi. Dan seperti sebelumnya, yang paling subur bukanlah bibit melainkan ilusi.
Gerakan Penanaman Pohon Serentak kembali digelar dengan segala kelengkapannya, pejabat hadir, spanduk dibentang, kamera diposisikan, rilis disiapkan. Dalam hitungan jam, Bogor kembali dinarasikan sebagai daerah yang peduli lingkungan. Setidaknya di atas kertas dan unggahan media sosial.
Di lapangan, banjir tidak menunggu seremoni. Longsor tidak peduli jumlah bibit yang ditanam di depan kamera. Air tetap kehilangan ruang resapannya karena hutan, sawah, dan lahan hijau terus dikorbankan atas nama pembangunan.
Di sinilah akar persoalan yang sengaja dihindari. Bogor tidak sedang kekurangan pohon, Bogor sedang kelebihan pembiaran.
Penanaman pohon akan selalu gagal jika dilakukan bersamaan dengan pembiaran alih fungsi lahan. Ia akan selalu menjadi sandiwara jika izin pembangunan di kawasan hijau tetap diterbitkan. Menanam di satu sisi sambil merusak di sisi lain bukan kebijakan lingkungan itu kontradiksi yang dilegalkan.
Lebih jujur jika pemerintah mengatakan ini apa adanya, tanam pohon hanyalah kosmetik kebijakan. Satu hari menanam ribuan bibit tidak pernah sebanding dengan bertahun-tahun pembabatan ruang hijau. Lebih parah lagi, publik tidak pernah diajak bicara soal hasil. Berapa yang hidup? Berapa yang mati? Siapa yang bertanggung jawab? Di mana laporan evaluasinya?
Jawabannya nyaris selalu sama yaitu sunyi. Sunyi setelah kamera mati. Sunyi setelah baliho diturunkan. Sunyi saat pohon-pohon yang ditanam mengering tanpa perawatan. Yang ramai hanya satu hal, proyek terus jalan.
Maka wajar jika publik mulai muak. Warga tidak lagi terkesan dengan jargon "hijau", "lestari" atau "berkelanjutan" yang diulang setiap tahun. Mereka menilai ada jarak yang makin lebar antara ucapan dan kebijakan, antara seremoni dan keberanian.
Sebab menjaga lingkungan menuntut keputusan tidak populer. Menolak izin, menghentikan proyek, melawan kepentingan modal. Dan di sinilah masalah sebenarnya, keberanian itu tidak kunjung hadir.
Selama Gerakan Penanaman Pohon hanya diperlakukan sebagai agenda tahunan tanpa koreksi kebijakan, ia bukan solusi krisis ekologis. Ia adalah pengalihan isu yang dibungkus narasi kepedulian.
Bogor tidak sedang menyelamatkan alam. Bogor sedang menenangkan nurani. Dan selama akar masalahnya izin, tata ruang, dan keberanian politik tidak disentuh, maka penanaman pohon hanyalah upaya menutup luka dengan daun, sementara pisau masih menancap di batangnya.
Publik kini pantas bertanya tanpa kompromi. Apakah yang ditanam itu pohon, atau kebohongan yang tumbuh subur karena dibiarkan?
Laporan : Indrawan
