BOGOR - TRANSJURNAL.com - Kekeringan berkepanjangan melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kondisi ini membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor memperkuat penanganan krisis air dengan mendistribusikan air setiap hari ke wilayah terdampak.
Bupati Bogor Rudy Susmanto mengatakan status tanggap darurat kekeringan kembali diperpanjang. Langkah tersebut diambil karena musim kemarau masih berlangsung dan berdasarkan informasi BMKG, puncak musim kering belum mencapai titik maksimal.
"Kekeringan, kita hari ini melakukan perpanjangan kembali SK tanggap darurat untuk kekeringan. Kita juga melihat rilis dari BMKG yang melihat tren puncak di musim kering belum sampai titik puncak," kata Rudy Susmanto, Senin (31/8/2026).
Rudy menegaskan Pemkab Bogor tidak tinggal diam menghadapi kondisi tersebut. Distribusi air bersih terus dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang terdampak kekeringan.
"Pemkab Bogor setiap hari masih melakukan distribusi air di 40 kecamatan yang ada. Dan di beberapa titik lokasi yang ada kita sudah menyiapkan toren-toren," ujarnya.
Penyediaan toren dilakukan di sejumlah titik distribusi agar air yang dikirim dapat ditampung dan dimanfaatkan masyarakat secara lebih mudah.
Selain distribusi air, Pemkab Bogor juga menyiapkan langkah untuk memperkuat ketersediaan sumber air. Salah satunya dengan membangun sumur bor di sejumlah titik yang memiliki potensi sumber air.
"Lalu kita juga sudah membangun beberapa sumur-sumur bor di titik-titik sumber air yang bisa kita distribusikan untuk kepentingan masyarakat," kata Rudy.
Kondisi kemarau panjang juga meningkatkan potensi terjadinya kebakaran lahan. Minimnya curah hujan membuat semak-semak dan vegetasi di sejumlah wilayah menjadi kering dan mudah terbakar.
Rudy mengingatkan masyarakat agar tidak membuang puntung rokok sembarangan maupun membakar sampah selama kondisi kemarau masih berlangsung.
"Kita mengimbau kepada seluruh masyarakat, intensitas hujan sangat minim di Kabupaten Bogor. Banyak semak-semak yang kering, jangan buang puntung sembarangan. Dan kalaupun mengetahui beberapa titik-titik api dan jangan membakar sampah sembarangan," ucapnya.
Ia meminta masyarakat segera melakukan penanganan apabila menemukan titik api agar tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.
"Kalau ada beberapa titik-titik api, kita padamkan segera bersama-sama. Tentu kita jaga lingkungan bersama-sama, jaga Bogor bersama-sama untuk bangsa Indonesia," sambung Rudy.
Kekeringan yang berlangsung selama beberapa bulan juga mulai memberikan dampak terhadap sektor pertanian di Kabupaten Bogor.
Sejumlah lahan pertanian belum dapat ditanami karena ketersediaan air tidak mencukupi. Kondisi tersebut terutama dirasakan petani yang biasa mengandalkan air hujan untuk memulai masa tanam.
"Kebetulan musim kering sudah terjadi beberapa bulan ke belakang. Jadi beberapa lahan pertanian memang tidak ditanami tanaman pertanian yang biasa dijalankan, seperti padi. Karena tidak ada hujan, para petani juga belum bisa melakukan penanaman," jelas Rudy.
Pemkab Bogor pun terus melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi dampak kekeringan, mulai dari distribusi air bersih, penyediaan toren hingga pembangunan sumur bor di sejumlah titik.
Rudy berharap masyarakat turut menjaga penggunaan air dan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan selama musim kemarau masih berlangsung.
Pemerintah bersama masyarakat diharapkan dapat menghadapi kondisi tersebut secara bersama-sama hingga ketersediaan air kembali normal setelah musim hujan tiba.
Laporan : Indrawan

