Depok - Transjurnal.com - Air mata kekalahan yang pernah mengiringi tiga pertandingan sebelumnya kini berganti dengan senyum kemenangan. Saskia Regina Putri, pesilat muda Pengsimatoga Jalan Enam, akhirnya menuntaskan penantiannya dengan meraih medali emas sekaligus dinobatkan sebagai Pesilat Terbaik Putri Tingkat Pra Remaja pada ajang BNN CUP 7 di GOR Kota Depok.
Saskia bukan datang ke gelanggang dengan perjalanan yang mudah. Sebelum berdiri di podium juara, siswi SMP Darul Ulum itu telah tiga kali mencoba peruntungannya dalam kejuaraan A Cup, B Cup, dan C Cup. Tiga kesempatan tersebut berakhir tanpa gelar juara.
Namun, kegagalan itu justru menjadi titik balik.
Alih-alih larut dalam kekecewaan, Saskia memilih mengevaluasi dirinya. Cara bermain diperbaiki, teknik diasah, kedisiplinan ditingkatkan, dan latihan dijalani dengan lebih serius. Ia juga berusaha membenahi rutinitasnya di luar gelanggang.
“Selama tiga kali gagal di pertandingan sebelumnya, saya selalu berusaha introspeksi diri dan mengevaluasi cara bermain saya. Saya mulai memperbaiki hal-hal yang harus saya lakukan di rumah, seperti menjaga salat lima waktu tepat waktu, lebih giat berlatih, serta terus memperbaiki teknik,” kata Saskia.
Lebih dari sekadar latihan fisik, Saskia membawa perjuangannya ke ruang yang lebih personal. Selama lebih dari sebulan, ia rutin menjalankan salat tahajud. Dalam setiap sujud terakhir, ada doa yang sama yang terus ia panjatkan.
“Hampir sebulan lebih saya juga menjalankan salat tahajud. Di setiap sujud terakhir, saya selalu memanjatkan doa yang sama. Saya juga yakin dengan doa kedua orang tua saya yang tidak pernah putus. Alhamdulillah, semua ikhtiar dan doa tersebut akhirnya diberikan hasil yang terbaik,” ujarnya.
Ikhtiar itu kemudian mendapat jawaban di BNN CUP 7. Turun di Tanding Kelas C Putri Tingkat Pra Remaja/SMP, Saskia mampu menunjukkan perkembangan dari pengalaman-pengalaman sebelumnya hingga akhirnya meraih medali emas.
Pencapaiannya semakin lengkap setelah ia dinobatkan sebagai Pesilat Terbaik Putri Tingkat Pra Remaja. Gelar tersebut menjadi penghargaan atas penampilan dan perjuangan Saskia di tengah persaingan para pesilat muda dalam kejuaraan tersebut.
“Yang paling penting bukan berapa kali kita jatuh, tetapi berapa kali kita mau bangkit. Saskia sudah merasakan kekalahan, belajar dari sana, kemudian kembali berlatih dan mencoba. Hari ini hasilnya bisa kita lihat bersama,” ujar Bang Idris, pelatih Pengsimatoga Jalan Enam
Prestasi Saskia juga menjadi bagian dari kiprah Pengsimatoga Jalan Enam di BNN CUP 7. Perguruan tersebut mengirimkan 34 atlet, mulai dari tingkat UD 1 hingga Remaja, untuk berkompetisi dalam ajang yang berlangsung pada 19–23 Agustus 2026 di GOR Kota Depok.
Pendiri Perguruan Pengsimatoga Jalan Enam, Bapak Yadi Khaerudin, menilai pencapaian Saskia memiliki makna lebih dari sekadar perolehan medali.
“Yang paling penting bukan hanya hasil akhirnya, tetapi proses yang dijalani. Saskia menunjukkan bahwa kegagalan bukan alasan untuk berhenti. Justru dari kegagalan itu seseorang bisa belajar, memperbaiki diri, dan kembali lebih kuat,” ujar Yadi.
Kisah Saskia menjadi potret sederhana tentang arti sebuah perjuangan. Tiga kali gagal tidak membuatnya meninggalkan gelanggang. Ia memilih kembali berlatih, memperbaiki diri, menjaga disiplin, serta menggantungkan harapan melalui doa dan dukungan kedua orang tuanya.
Kini, setelah tiga kali kegagalan, Saskia akhirnya pulang membawa sesuatu yang selama ini diperjuangkan: medali emas dan gelar Pesilat Terbaik Putri Tingkat Pra Remaja.
Bagi Pengsimatoga Jalan Enam, emas tersebut bukan sekadar tambahan koleksi prestasi. Ia menjadi bukti bahwa kegagalan bukan akhir dari perjalanan—terkadang, justru menjadi awal dari sebuah kemenangan.
Laporan : Indrawan
