BOGOR - TRANSJURNAL.com - Di tengah gencarnya pembangunan fasilitas umum di Kabupaten Bogor, kisah pilu seorang nenek berusia 75 tahun di Kecamatan Cariu menjadi perhatian publik.
Nenek tersebut bernama Minah, warga RT 015/005, Kampung Pahae, Desa Cariu, Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor. Di usia senja, Minah masih harus bertahan hidup seorang diri dengan berjualan lotek.
Ironisnya, tempat tinggal yang menjadi rumahnya selama ini berada dalam kondisi memprihatinkan. Bangunan sederhana itu didominasi bambu dan kayu yang sebagian kondisinya sudah rapuh.
Atap rumah juga terlihat mengalami kerusakan dan terdapat bagian yang bocor. Saat hujan turun, kondisi tersebut tentu membuat Minah harus menghadapi situasi yang tidak mudah di usia yang sudah lanjut.
Rumah Minah berdiri di atas lahan yang luasnya kurang dari 60 meter persegi. Kondisi bangunan yang serba terbatas tersebut membuat tempat tinggalnya layak mendapat perhatian pemerintah.
Persoalannya, Minah mengaku hingga kini belum mendapatkan bantuan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu).
Padahal, Pemkab Bogor diketahui memiliki program perbaikan ribuan rumah tidak layak huni. Target program tersebut mencapai sekitar 13 ribu unit rumah.
Kondisi Minah pun memunculkan pertanyaan publik mengenai mekanisme pendataan dan penetapan penerima bantuan Rutilahu.
Apakah Minah belum masuk dalam pendataan? Sudah terdata tetapi belum mendapatkan alokasi? Atau terdapat persoalan lain dalam proses penentuan penerima bantuan?
Pertanyaan tersebut penting dijawab secara terbuka agar program Rutilahu tidak hanya terlihat besar dari jumlah rumah yang diperbaiki, tetapi juga benar-benar menyentuh masyarakat yang paling membutuhkan.
Terlebih, persoalan yang dihadapi Minah bukan sekedar mengenai kondisi bangunan rumah.
Di usianya yang telah mencapai 75 tahun, ia masih harus bekerja setiap hari dengan berjualan lotek demi memenuhi kebutuhan hidup. Kondisi tersebut membuat perhatian dan intervensi pemerintah menjadi semakin penting.
Warga berharap pemerintah desa, anggota DPRD, serta Pemkab Bogor dapat turun langsung melihat kondisi rumah Minah.
Verifikasi lapangan dinilai penting untuk memastikan status Minah dalam pendataan penerima Rutilahu sekaligus mencari solusi terhadap kondisi rumahnya.
Program bantuan pemerintah, pada akhirnya, bukan hanya soal berapa ribu rumah yang berhasil diperbaiki. Lebih dari itu, keberhasilan program harus dilihat dari seberapa tepat bantuan tersebut menjangkau warga yang benar-benar membutuhkan.
Kisah Minah menjadi pengingat bahwa di balik angka ribuan unit Rutilahu, masih ada warga lanjut usia yang menanti perhatian pemerintah dari balik dinding bambu dan atap rumah yang telah rapuh.
Jangan sampai warga yang paling membutuhkan justru terlewat.
Laporan : Indrawan
