Notification

×

Iklan

Iklan

SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI TRANSJURNAL.COM

Indeks Berita

Tag Terpopuler

600 Hektare Sawah di Koltim Gagal Panen, Ketua Komisi II DPRD Dorong Program Irigasi Air Tanah

Saturday, 8 August 2026 | August 08, 2026 WIB Last Updated 2026-08-09T05:01:42Z


KOLTIM - TRANSJURNAL.com -
Kekeringan menghantam lahan pertanian di Desa Bou Kecamatan Lambandia Kabupaten Kolaka Timur (Koltim), Sulawesi Tenggara. Sekitar 600 hektare sawah dilaporkan mengalami gagal panen dari total kurang lebih 1.000 hektare lahan pertanian yang selama ini mengandalkan air hujan untuk memenuhi kebutuhan pengairan.


Kondisi tersebut mendapat perhatian Ketua Komisi II DPRD Kolaka Timur, Suprianto, ST., MT. Ia turun langsung meninjau kondisi persawahan sekaligus melihat dari dekat dampak kekeringan yang dirasakan para petani.


Dalam peninjauan tersebut, Suprianto melihat langsung lahan persawahan yang mengalami kekeringan. Minimnya pasokan air membuat tanaman padi tidak dapat tumbuh secara optimal hingga menyebabkan petani terancam kehilangan hasil panen.


Menurut Suprianto, persoalan tersebut membutuhkan solusi yang tidak hanya bersifat sementara. Salah satu alternatif yang dinilai dapat membantu petani adalah pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT).


JIAT merupakan sistem pengairan pertanian yang memanfaatkan sumber air tanah melalui sumur bor dan jaringan pipa untuk kemudian dialirkan ke lahan pertanian.


"JIAT ini salah satu solusi yang tepat untuk membantu petani, khususnya lahan yang masih mengandalkan tadah hujan. Dengan adanya jaringan irigasi air tanah, pasokan air diharapkan bisa lebih stabil," kata Suprianto, Minggu, (09/08/2026).


Ia menilai pembangunan infrastruktur pengairan menjadi penting untuk menjaga produktivitas pertanian, terlebih ketika petani menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu.


Selama ini, sebagian petani di Desa Bou masih sangat bergantung pada curah hujan. Ketika hujan tidak turun dalam waktu yang cukup lama, sawah mengalami kekeringan dan tanaman padi berisiko gagal panen.


"Petani tidak bisa terus-menerus bergantung pada hujan. Harus ada infrastruktur pengairan yang mampu menjamin ketersediaan air ketika musim kering," ujarnya.


Suprianto menegaskan, kondisi petani harus menjadi perhatian bersama karena sektor pertanian memiliki peran penting terhadap ketahanan pangan dan perekonomian masyarakat di daerah.



Sementara itu, salah satu kelompok tani, Ambase, mengapresiasi langkah Suprianto yang turun langsung melihat kondisi para petani terdampak kekeringan.


Menurutnya, kehadiran wakil rakyat di tengah persoalan yang dihadapi masyarakat memberikan harapan agar masalah tersebut segera mendapatkan jalan keluar.


"Kami sangat mengapresiasi dan berharap atas kehadiran Bapak Ketua Komisi II DPRD Kolaka Timur yang tanggap dan prihatin terhadap petani terdampak. Kami berharap ada solusi untuk persoalan ini," ujar Ambase.


Ia juga mengaku bangga mendapat perhatian dari Suprianto meskipun wilayah tersebut bukan merupakan daerah pemilihannya.


"Kami bangga memiliki dewan seperti Bapak Suprianto. Meski bukan dapilnya, perhatian beliau terhadap petani sangat luar biasa. Beliau mau melihat langsung kondisi kami dan tahu keresahan yang kami rasakan," katanya.


Para petani berharap perhatian tersebut tidak berhenti pada kunjungan lapangan, tetapi dapat ditindaklanjuti melalui program pembangunan jaringan irigasi yang mampu menjamin ketersediaan air untuk lahan pertanian.


Bagi petani Desa Bou, persoalan air bukan sekadar masalah musim. Ketersediaan air menjadi penentu apakah ribuan hektare lahan pertanian dapat menghasilkan panen atau justru kembali mengalami gagal panen.


Karena itu, pembangunan sistem irigasi yang berkelanjutan dinilai menjadi kebutuhan mendesak agar petani tidak terus berada dalam ketidakpastian setiap kali musim kemarau datang.


Laporan Redaksi 

×
Berita Terbaru Update