BOGOR - TRANSJURNAL.com - Di tengah berbagai program pembangunan dan narasi peningkatan kesejahteraan, kehidupan keluarga Warto dan Mimin menghadirkan potret lain di Kabupaten Bogor. Demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, pasangan suami istri itu masih menggantungkan hidup dengan memulung barang bekas, bahkan ditemani anak mereka.
Setiap hari, mereka mendorong gerobak menyusuri jalan dan tempat pembuangan sampah untuk mengumpulkan barang-barang yang masih memiliki nilai jual. Hasilnya digunakan untuk membeli kebutuhan pokok keluarga.
Kondisi tersebut menjadi perhatian sejumlah masyarakat yang menilai masih adanya warga yang hidup dalam kemiskinan ekstrem dan belum sepenuhnya tersentuh program perlindungan sosial maupun pemberdayaan ekonomi.
Seorang pemerhati sosial menilai, keberadaan anak yang ikut memulung menunjukkan perlunya perhatian lebih dari pemerintah daerah. Menurutnya, setiap anak memiliki hak untuk memperoleh pendidikan, perlindungan, dan tumbuh dalam lingkungan yang layak sebagaimana dijamin dalam peraturan perundang-undangan.
"Ketika masih ada anak yang harus ikut mencari nafkah di jalanan, itu menjadi pengingat bahwa persoalan kemiskinan belum sepenuhnya terselesaikan. Pemerintah perlu memastikan bantuan sosial, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi benar-benar menjangkau masyarakat yang membutuhkan," ujarnya.
Potret kehidupan Warto dan Mimin juga memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas program penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Bogor. Di satu sisi, pembangunan infrastruktur terus berjalan. Namun di sisi lain, masih ditemukan keluarga yang bertahan hidup dengan memulung sampah.
Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Bogor melakukan pendataan serta pendampingan terhadap keluarga rentan agar anak-anak tidak lagi harus ikut bekerja mencari nafkah dan dapat kembali memperoleh haknya untuk bersekolah.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Bogor mengenai kondisi keluarga tersebut maupun langkah yang akan dilakukan apabila mereka telah terdata sebagai keluarga miskin atau rentan.
Kisah Warto dan Mimin menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari berdirinya infrastruktur, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat, terutama anak-anak, memperoleh kehidupan yang layak, akses pendidikan, dan perlindungan sosial.
Laporan : Indrawan
